Jujurku yang Selanjutnya


Aku baru saja terbangun ketika alarm ponselku berdering seperti suara sirene tanda bubaran di pabrik tekstil. Suaranya meraung-raung digendang telingaku menggedor-gedor otakku agar memerintahkan mataku untuk terbuka. Aku liat sinar matahari dari sudut ventilasi kamarku yang berukuran 3x3m sudah bersinar dengan angkuhnya. Warnanya yang kuning keemasan menyombongkan diri kepada bumi bahwa seolah-olah dialah penguasa siang. Aku bergegas melangkahkan kakiku kekamar mandi sambil berdoa didalam hatiku semoga hari ini air PAM lancar, sehingga aku tak perlu lagi menggedor-gedor pintu rumah tetanggaku hanya untuk menumpang mandi. Dan syukurlah, rupanya doaku didengar oleh malaikat dan menyampaikannya ke Sang Penguasa Alam, airpun meluncur deras dari keran plastik bewarna hijau tua yang sedikit pecah dibibir lubangnya.

Aku ambil baju kemeja lengan panjang biru muda bergaris-garis putih dilemari usangku. Aku masih ingat bahwa lemari itu pernah merasakan dahsyatnya gelombang tsunami yang berkunjung kerumah kost adikku didaerah lingke, Banda Aceh tahun 2004 silam. Sedikit takjub, karena sampai sekarang ini dia masih berdiri kokoh walaupun warna hitamnya sudah sedikit memudar dan kulit kayu yang mengelupas. Setelah kelihatan rapi, aku mengambil kunci kontak motorku dimeja makan, jangan harap ada makanan di meja itu karena memang tiada satu orang pun yang sempat menyiapkan sarapan pagi dirumahku, semuanya terlau sibuk dengan mimpinya masing-masing sehingga tidak punya waktu untuk menyiapkan sarapan. Lebih baik berharap kepada ibu-ibu penjual lontong diujung lorong rumahku daripada mengharap orang-orang dirumahku menyiapkan sarapan.

Setelah selesai menyapa para security guard digerbang kantor dan memakirkan motorku. Aku bergegas menuju ruangan kantorku yang berbentuk trapezium dan aku harus rela berbagi ruangan dengan lima orang rekan sekantorku lainnya. Baru saja aku memasuki pintu kantorku yang bewarna coklat terang, dan tiba-tiba saja jantung sedikit berdetak kencang. Aku melihat pemandangan yang sangat-sangat luar biasa pagi ini. Ada sesuatu yang tepat hanya beberapa inchi dari sebelah tangan kananku membuat aku berhenti melangkah sejenak. Mataku menangkap suatu keindahan yang hadir dari lengkungan bibir yang berwarna merah muda membentuk senyuman hadir disebuah wajah oval cerah yang entah kenapa membuat perasaan aku tenang dan tentram. Aku tidak ingat, apakah aku sempat menjulurkan tanganku untuk mendengar pita suaranya menyebutkan namanya atau aku sama sekali tidak melakukannya. Bisa jadi aku terlalu gugup saat berhadapan dengan wanita cantik atau  mungkin saat itu kesadaranku sedikit berpergian dari ruhku karena terhipnotis senyumannya. Aku baru mengerti pada akhirnya bahwa ia adalah staf baru dikantorku sebagai administrator assistant. Kalian tahu apa yang dirasakan tukang obat keliling di depan mesjid raya Baiturrahman Banda Aceh ketika obat dagangannya habis terjual, pasti dia senang dan gembirannya bukan kepalang bukan?, atau pasti kalian akan senang bukan main saat pertama kali ayah kalian membelikan kapal-kapalan aluminium yang berjalan diatas air memakai minyak goreng. Aku mungkin juga merasakan hal yang sama pada saat itu, karena paling tidak setiap pagi pada saat aku melangkah masuk keruangan kantorku, aku akan disambut pemandangan yang luar biasa dari wajah dan senyumannya. Membangun suatu semangat pagi yang hebat untuk bisa melewati hari dengan giat.

Beruntung aku adalah seorang IT Officer dikantorku, sehingga aku punya segudang alasan untuk selalu tidak berada dimejaku. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mencuri-curi pandang kearahnya, dan terus-terusan mencari–cari 1000 alasan agar bisa selalu lewat di meja kerjanya atau berpura-pura untuk mengecek komputer atau jaringan printernya. Aku menjadi candu untuk melihat wajah dan senyumannya. Aku tidak mau berlebihan, tapi jujur aku akan terus mencari-cari senyum itu setiap hari untuk mengambil dan meletakkannya dalam hatiku. Aku tidak mau melewatkan satu haripun dalam  hidupku untuk tidak melihatnya.

Apa yang harus kukatakan? setelah hampir satu tahun aku bersamanya di kantor itu. Yang aku tahu dia adalah wanita hebat. Aku pernah mendiskripsikan bagaimana dirinya dimataku dipostingan blogku sebelumnya. Baik, pintar, mandiri, pekerja keras, patuh terhadap orang tua (mungkin juga akan patuh terhadap suami), alim, sayang keluarga, sopan, beruntung dan yang  jelas dia cantik dan itu adalah kesimpulan awal dan mungkin akhir dari aku tentang dirinya. Jangan katakan aku memujinya, aku takut dia terbang kelangit-langit kamarnya dan akhirnya ke-pentok plafon rumahnya. Bukan apa-apa, aku tidak ingin menyakitinya, itu saja  . Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya aku pikir dan rasakan tentang dirinya, paling tidak aku bisa berharap bahwa suatu saat nanti aku bisa memulai sesuatu yang bagus bersamanya.

Saat projek di kantorku berakhir, itu adalah hari tidak menguntungkan dalam hidupku. Selain aku kehilangan pekerjaan, aku juga pasti akan kehilangan senyum dan wajah cantiknya. Aku tidak bisa lagi mencuri-curi pandang ke arah wajahnya, atau pura-pura membenarkan printer di meja kerjanya, atau sekedar berjalan melewati mejanya ke arah balkon samping kantorku hanya sekedar untuk mencuri senyumnya. Walaupun kesempatan untuk bertemu itu ada, tetapi sudah jelas bahwa itu akan sangat jarang terjadi. Aku tidak terlalu mengerti dia sepenuhnya, tapi yang aku tahu bahwa dia buka tipe perempuan yang hobi duduk berjam-jam di warung kopi tanpa ada hal yang penting. Jadi sangat kecil kemungkinan untuk bisa melihat wajah cantiknya setiap hari, bahkan setiap bulannya.  Apalagi pada saat sekarang ini aku kerja beribu-ribu mil jauhnya dari kota tempat ia tinggal. Kesempatan untuk bertemu dengannya semakin kecil, jangankan untuk 1-2 bulan. Untuk satu tahun sekali saja mungkin akan sulit.

Dia semakin cantik, semakin dewasa. dan sepertinya dia juga semakin pintar berbicara. Itu yang yang aku pikirkan saat terakhir bertemu dengannya. Ramadhan kemarin adalah ramadhan yang terbaik dan penuh berkah bagiku saat dia meng-iyakan ajakan berbuka puasa bersamaku. Walaupun kami tidak menghabiskannya berdua saja.  Paling tidak aku punya alasan untuk bisa melihat kembali wajah cantik dan senyumannya, setelah mungkin hampir delapan atau sembilan bulan yang lalu kami terakhir bertemu. Ini adalah menjadi acara berbuka puasa terbaikku di tahun ini, karena bisa mengobrol, memandang wajah dan menatap jauh kedalam matanya. Aku tidak terlalu mendengarkannya, karena pikiranku terlalu sibuk untuk terus mengaguminya. Sehingga telingaku terlalu bodoh untuk menangkap gelombang dari pita suaranya.

Malam ini, aku duduk didepan layar monitor latop hitamku yang sedikit berdebu. Aku baru saja menyelesaikan baris deret angka dan huruf yang aku susun membentuk lembaran monthly report-ku. Libur lebaran ini membuatku malas sehingga hampir saja aku lupa menyiapkan dan mengirimkannya montly report ke atasanku. Aku baru ingat bahwa sudah lama aku tidak mengunjungiblog-ku. Entah apa yang sudah terjadi disana sebelum suatu saat aku menerima pesan dari singkat yahoo messenger. Dia menyapaku, aku senang?sudah pasti iya, kenapa tidak tiap detik saja kami mengobrol ngalur-ngidul antah berantah tanpa awal dan akhir.  Apa yang unik dari chatingan kami hari ini?. Mungkin hanya sebuah awal, atau mungkin juga akhir ketika aku bertanya sedikit tentang hubungan pribadinya. Seketika itu juga aku meniup terompet tahun baru tanda kegirangan ketika aku tahu dia tidak ‘in a relationship’.  Apakah aku masih punya kesempatan?tanyaku kepadanya. Dia tidak mau atau mungkin tidak pernah mau menjawab berapa persen, besar-kecil, atau ada tidaknya kesempatan itu.

Yang ingin aku katakan kepadanya. ‘Aku bukanlah seorang lelaki hebat yang bisa membelah gunung, mengarungi samudera yang luas atau menapaki gurun sahara untuk mencari cinta, Aku juga bukanlah Columbus yang berlayar ribuan mil untuk mecapai tanah impiannya Amerika, dan aku juga bukanlah Romeo yang rela mati demi mendapatkan cinta Juliet di Alam yang kemudian. Aku hanya seorang laki-laki biasa ‘ordinary man’ yang sedang berjuang untuk menghadirkan mimpinya dikehidupan nyata dan mimpi itu adalah kamu. Menjadi pendampingmu diakhir sisa hidupku adalah mimpiku. Aku tidak tahu apakah aku bisa memilki kesempatan itu, tapi apabila memang ada berikanlah kesempatan itu kepadaku. Aku berjanji dari apapun yang aku miliki didunia ini baik tenaga, pikiran, materi dan apapun yang kamu inginkan dariku akan kuberikan untuk bisa membahagiakanmu seumur hidupku’.

Cerita diblog ini belum berakhir, aku ingin cerita ini berakhir dengan ‘happy ending’. Aku sudah mengatakan kepadanya bahwa tiada satupun kisahku diblog ini yang berakhir dengan ‘happy ending’. Atau mungkin ini hanya jadi kisahku yang kesekian kalinya tanpa diakhiri dengan ‘happy ending‘. Karena itu, Aku sangat-sangat ingin dia berpartisipasi dalam menginspirasikanku untuk menulis rangkaian huruf dan kata-kata menjadi suatu kisah diblog ini menjadi sesuatu yang ‘happy ending’ bagiku dan juga bagi dirinya.

Tanpa sadar, aku hanya menyisakan seseruput lagi dari dua cangkir kopi Ulee Kareng yang aku bawa dari cuti terakhirku kemarin. Suara jangkrik dan binatang semakin jelas terdengar dikehinangan malam. Angin dingin yang dibawa musim gugur yang menggantikan musim panas tahun ini mulai menusuk tulang miskinku. Aku lihat jam weker digital yang aku beli dipasar loak di Kota Kabul sebelum ramadhan kemarin menunjukan waktu hampir jam dua pagi. Mataku sudah terlalu lelah untuk menatap monitor laptopku. Jariku juga sudah ogah apabila terus kupaksa untuk menekan tombol-tombol keyboard ini. Cukup sudah mungkin untuk malam ini. Mengambil kalimatnya favoritnya ‘mataku juga sudah 5 watt’, untuk bisa terus bertahan terbuka sepanjang malam ini. Sudah saatnya aku bermimpi dan menghadirkan dirinya dimimpiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s