Diantara Sombongnya dan Jujurku

Yahoo messenger mengeluarkan suara seperti tutup botol wine yang keluar dari lubangnya. Sejurus kemudian aku melangkahkan kakiku kearah meja kerjaku yang berwarna hitam gelap dan sedikit berdebu karena sudah aku tinggalkan hampir 3 minggu lebih. Sepertinya pekerjaanku yang menumpuk sedikit mengabaikan kerapihan dan kebersihan kamar ku, walaupun sebenernya sangat-sangat jarang sekali kamarku terlihat bersih dan rapi. Well, kemudian aku lihat laptop hitam yang dipinjam pakaikan kantor untukku. Di sela-sela backround wallpaper tumpukan sandal-sandal korea yang aku ambil gambarnya waktu aku transit di Singapura muncul sebuah pop-up windows YM dengan kata ‘invsible ni yee’. Sedikit tersenyum, karena memang pada saat siang atau sore hari aku tidak pernah meng-available-kan YM-ku, takut ada yang ganggu saat aku sibuk bekerja ataupun celotehan tukang kredit panci, baskom, sempak, tali jemuran menawarkan dagangannya secara online. Tapi biasanya, teman-teman dekatku sudah tahu kebiasaan –gak tau jelek apa tidak- ku ini.

Aku perhatikan lagi nama yang muncul di pop-up YM-ku, sebuah nama yang sering di gunakan ribuan wanita di Indonesia ini yang awalnya mungkin terlihat biasa saja. Walaupun kenyataannya bahwa orang yang namanya melekat di KTPnya itu merupakan seorang wanita yang aku pikir luar biasa bagiku, bagus di karir, pintar tetapi sedikit kurang beruntung dalam pencarian ‘teman hidup’.

Awalnya aku pikir ini adalah sebuah chit-chat biasa, sebuah chit-chat ngalur ngidul kata orang jawa yang gak tau awal, tengah dan akhirnya. Sebuah pembicaraan ‘teman’ yang jaraknya ribuan mil terpisah beberapa belas Negara dan ribuan kota. Sebuah chit-chat yang terkadang membentuk emoticon tersenyum, tertawa, nyengir, guling-guling, lirikan menggoda, tanda tanya atau iblis merayu.  Jari-jariku sedikit kotor karena baru saja memperbaiki beberapa kabel jaringan computer begitu lincah mengetik di tuts keyboard, sepertinya mereka sudah memiliki 2 mata atau bahkan 4 mata di ujung-ujungnya sehingga mereka bisa begitu cepat mengarah kehuruf-huruf yang ada dikeyboardku menyusun huruf menjadi kata-kata dan membentuk sebuah kalimat-kalimat pendek, sedang atau panjang.

Tetapi setelah tidak berapa lama kami berlatih jari-jemari membentuk kata dan kalimat, tiba-tiba dia membuat pertanyaan –yang aku pikir tidak akan pernah ia tanyakan kepadaku- sebuah pertanyaan yang menyangkut bagaimana pribadinya. Aku sedikit terkejut dengan diriku sendiri dan juga dirinya karena selama ini dia selalu menghindar, sembunyi atau mungkin berlari jika tanpa sengaja atau mungkin memang sudah aku rencanakan apabila aku menanyakan hal-hal yang ‘sedikit’ pribadi tentang dirinya. ‘apakah aku sombong??’ sebuah kalimat yang muncul di layar messengerku. Untuk apa? kenapa? ada apa dibalik pertanyaan itu pikirku. Dia hanya menjawab hanya untuk introspeksi diri. Hmm..sebuah pertanyaan yang mungkin bagiku sedikit sulit untuk dijawab. Sedikit sulit, karena aku harus bisa merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaannya itu tanpa harus menyentuh perasaannya. Aku tidak mau jawabanku itu menyanjungnya terbang ke langit atau menghempaskannya ke dasar laut. Aku hanya ingin jawabanku paling tidak bisa membuat dia tersenyum –kecut- atau nyengir sekalian.

Kalimat selanjutnya yang keluar ada permintaan bahwa aku harus jujur. Well, mau tidak mau aku harus mengatakan yang sejujurnya –karena katanya untuk introspekesi diri-. Ya terpaksalah aku katakan yang selama ini aku pendam dan aku idam-idamkan untuk aku nyatakan. No, I am not, aku hanya bilang bahwa dia sedikit tidak perduli ama kehidupan sosialnya, apakah tidak perduli bisa disamakan dengan kata sombong?. Well, kata orang rambut boleh sama hitam, tapi hati siapa yang tahu. Lingkungan –baik kantor, rumah atau apapun lingkungannya- pasti punya hak untuk menghakimi orang lain dengan persepsi yang dia miliki. Ketidakpedulian terhadap sosial –baca selanjutnya cuek- merupakan suatu sikap yang kita miliki di awal yang punya potensi besar untuk selanjutnya dikatakan sombong oleh lingkungan kita. Dia memang cuek terhadap kehidupan sosialnya. Tidak pernah hadir saat acara kantor, undangan teman, atau bahkan hanya sekedar nongkrong menghabiskan 1-2 jam di warung kopi. Hal-hal semacam ini sudah cukup untuk meng-judge dia bahwa sebenernya dia memang sombong. Tapi apakah seperti itu yang terjadi sebenarnya?. Orang-orang –baca lingkungan- tidak pernah perduli dengan seribu alasan kita untuk mengatakan tidak terhadap sosialita. Mereka tidak pernah perduli bahwa kita punya orang tua yang selalu memonitor kita 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, Mereka tidak pernah perduli bahwa kita selalu banyak pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan –walaupun Cuma tidur-, atau mereka tidak pernah mau tahu kalau kita sudah terlalu lelah untuk bisa melanjutkan acara sosialita kita setelah seharian di-cek-cok-in berkas seribu lembar dan mereka memang tidak pernah mau perduli untuk itu. Mudah-mudah kejujuranku ini tidak menyanjungnya .

Aku memang belum terlalu lama mengenal dia, 1-2 tahun mungkin. Tapi aku percaya dia bukan seperti itu. Terlalu banyak alasan –walaupun terkadang alasan itu di buat-buat- untuk dia untuk tidak hadir di kehidupan sosialita lingkungannya. Dia yang aku kenal sekarang ini di depan mataku adalah seorang yang baik, pintar, mandiri, pekerja keras, patuh terhadap orang tua (mungkin juga akan patuh terhadap suami), alim, sayang keluarga, sopan, beruntung dan yang  jelas dia cantik –boleh dibold gak yah kata yang terakhir-. Mungkin ada kebaikan-kabaikan lainnya dari dirinya yang sangat proposional untuk di jadikan pendamping hidup laki-kali –baca istri-. Semoga dia tidak terbang ke langit-langit saat membaca bagian ini.

Jadi hanya satu kata sombong melawan seribu kebaikannya adalah bukan suatu apa-apa yang bisa mengganggu hidupnya aku pikir. Life must be go on, jangan sampai hal-hal kecil mengganggu langkah-langkah yang kita tapakin dibumi ini. Biar orang berkata apap tentang kita, selama hidup kita baik, tidak mengganggu dan mempengaruhi orang lain kenapa harus risih. Ya kan?

waktunya menunjukan jam 7 malam di sudut kanan bawah laptopku. Adzan maghrib mulai terdengar dari masjid kecil disebelah tembok rumahku yang mirip dengan tembok penjara. Suara adzan yang berlomba dengan suara-suara helikopter yang hilir mudik di atas atap rumah kantorku seakan tidak mengusik chit-chat ku dengannya. Tapi well, aku dan dia harus pergi, aku menunaikan kewajibanku dan dia menunaikan kewajibannya -baca tidur- karena mungkin sudah terlalu larut dinegerinya. Semoga dia bisa mimpi indah dan menemukan lelakinya dimimpinya. Selamat tidur dan good nite.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s