Hanya Karena Sebuah Tatapan Mata…

Sore itu, langit berwarna gelap baru saja menjatuhkan titik air hasil dari kristalisasi awan cumolonimbus yang berwarna abu-abu pekat. Warna langit itu mungkin mungkin saja ia sedang berempati atas tewasnya –yang katanya- gembong teroris nomor wahid di dunia Osama bin Laden yang ketenarannya mengalahkan David beckham, Michael Jackson atau Alpacino sehingga ia memunculkan tema hitam pekat berkarat untuk turut berbela sungkawa. Tapi, tema langit sore ini tidak bisa mengalahkan hasratku yang didasari rasa setia kawan untuk belanja membeli titipan temanku yang sedang mengadu domba nasib, rezeki dan umur di negeri seribu Mullah. Dan aku bisa sedikit tersenyum berbangga diri sambil mengejek langit karena hari  ini aku tidak takut bau parfum baru yang menempel dibajuku hilang karena kena tetesan bertubi-tubi air hujan. Karena hari ini, aku akan belanja naik mobil seharga Rp. 275.000 perhari.

Baru saja aku ingin menyalakan mobil rentalku, sebelum akhirnya aku membatalkan memasukkan anak kunci ke lubang pipih jelek yang menempel dekat setir berpalang tiga itu. Itu karena aku mendengar sebuah susun huruf yang keluar dari regangan pita suara teman perempuanku membentuk dan memanggil suatu nama yang sedang terkenal karena diseantero Indonesia  –malah sampai afghanistan– karena si empunya nama membohongi seorang laki-laki bodoh untuk menikahinya yang juga laki-laki. Tapi disini, nama ini bener-bener mirip perempuan lho, bukan perempuan jadi-jadian yang dipaksakan. Langkah kakinya pun mulai bergerak menapaki jalan aspal sempit yang mulai di berlubang karena digerogoti umur dan karet hitam ‘goodyear atau bridgestone’. Perlahan tapi pasti dia mendekati mobil kami yang berwarna hitam pekat yang toping-nya di tempeli lumpur kering yang mungkin dihasilkan sisa hujan kemarin.

Aku ulurkan tangan kananku untuk menyambut uluran tangan kanan mungilnya dihadapanku. Sungguh saat itu aku tidak mendengar suara apapun ditelingaku, bahkan saat dia menyebutkan namanya di sebelah telingaku yang hanya berjarak kurang dari 30 sentimeter dari dari bibir mungilnya yang berwarna merah muda merona. Sklera bola mataku yang seharusnya bewarna putih kini tampak bewarna kemerahan karena aku lupa membawa obat tetes mataku menangkap retina berwarna coklat terang yang sedang menantang tajam kearah retina mataku.

Aku menemukan arti yang berbeda dari warna bola matanya itu. Warna yang sangat-sangat berbeda dari perumpuan-perumpuan urban lainnya, dimana perempuan-perempuan yang di urat sarafnya di aliran darah yang telah diracuni dengan sel-sel hedonisme. Berkembang biak setiap detik dan akhirnya menggerogoti nilai-nilai kesederhanaan yang diajarkan ideologi negara kita. aku juga menemukan banyak perbedaan-perbedaan lain dari perempuan-perempuan jaman sekarang yang lebih rela antri seharian penuh hanya untuk mendampatkan sendel jelek busuk bewarna norak yang bergambar buaya mangap kelaparan. Atau rela antri berjam-jam saat launching smartphone baru tercanggih yang harganya sama dengan harga motor seken dan seterusnya Cuma dipake buat foto dan dengerin musik.

Disaat perempuan-perempuan lain sibuk dengan produk fesyen terbaru seperti D&G, Prada, Lois Voiton, Donna Karan ataupun Versace. Disaat perempuan-perempuan lain sibuk di produk-produk perawatan tubuh, parfum ataupun make up. Disaat perempuan-perempuan lain sibuk dengan produk dan mode rambut terbaru atau dengan kata lain perempuan-perempuan yang menganut faham ‘shoping ’til you die’ , dia malah memilih hobi fotografi. Aku katakan sekali lagi hobinya adalah fotografi dan bukan fotografi dengan menangkap objek dari sensor kemera poket ataupun SLR digital untuk menarsiskan diri sendiri. Aku telah menekuni hobi fotografi 3-4 tahun belakangan ini dan aku juga banyak bergabung dengan beragam macam komunitas fotografi, dari komunitas kamere analog, pin hole, lomo, atau digital yang bertema human interest, lenskep, model & fesyen ataupun sport. Dan aku faham betul kalo hanya ada sedikit perempuan yang bergabung di komunitas-komunitas fotografer itu. Mungkin perbandingannya 1 perempuan berbanding 20 laki-laki dan yang menekuni betul hobiya itu paling 1-2 orang yang selebihnya  hanya ikut-ikutan atau karena perempuan-perempuan itu tidak mau dikatakan ketinggalan jaman. Jadi aku pikir, sangatlah luar biasa jika aku menemukannya disini dan dilakukan bukan hanya sekedar basa-basi atau ikut-ikutan.

warna mata yang aku temukan ini begitu berbeda, ada sesuatu didalamnya yang selama aku cari dalam hidupku. perempuan yang bukan seperti perempuan kebanyakan. Bukan ordinary woman tapi extraordinary woman yang nantinya akan selalu memberi kekuatan kepada setiap laki-laki untuk melangkah. Aku menemukan ada kesedarhanaan disitu, ada kedewasaan, ada kehangatan, ada keikhlasan dan juga ketulusan yang bersatu dan tumbuh dari dalam hati dan seterusnya dipancarkan oleh matanya. Aku juga bisa melihat dari gayanya berpakaian dan itu adalah gaya berpakain yang luar biasa bagi ku, sederhana, tertutup tapi tetap terlihan fashionable dan menarik. Mungkin aku terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang dirinya,  Tapi waktu satu hari penuh yang di anugerahkan Allah kepadaku untuk bisa bersamanya untuk menghabiskan detik demi detik yang rela Ia berikan padaku dikota itu paling tidak bisa memberiku pencerahaan awal mengenai bagaimana dirinya dan bagaimana berbedanya dia dari perempuan-perempuan lain yang aku kenal selama ini.

Jangan katakan aku jatuh cinta padanya, untuk sekarang ini terlalu dini untuk mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak tahu setelah ini tapi yang jelas saat ini aliran darahku, nafasku, otakku di penuhi kekaguman tentang dirinya. Aku tidak juga tidak pernah tahu bermetamorfosa menjadi apakah nantinya rasa kagumku itu. Aku hanya berharap sesuatu yang terbaik akan menghampiri kehidupanku. Akan terdengar terlalu egois nantinya apabila aku hanya memikirkan perasaanku tanpa mempertimbangkan pereasaannya atau perasaan orang yang lagi bersamanya.

Waktu menunjukkan jam 5 petang, dan hujan masih saja tak pernah bosan untuk membasahi setiap jengkal tanah di kota ini. Aku sadar waktu ku akan segera berakhir disini dan aku harus segera pergi. Ada sedikit ketidakrelaan dalam hatiku untuk tidak melihat mata indahnya lagi. Mata yang paling tidak telah menyihir dan menghipnotisku hanya dalam hitungan detik, mata yang telah membunuh akal sehatku, mata yang memberiku kejutan tentang gambaran perempuan-perempuan urban dan mata yang memberi arti bahwa kesederhanaan itu masih ada di muka bumi ini.

Hujan kini semakin keras menghujam bumi. Kilatan cahaya petir besahutan menyambung menerangi hiruk pikuknya kehidupan. Udara dingin yang menusuk tulang membungkus sore yang akan di terkam malam. dan sejuta pikiran, perasaan dan peranyaan tentang dirinya mengiringi kepergianku dari kota ini. Aku tidak mau mengatakan selama tinggal, aku hanya ingin mengatakan sampai ketemu lagi.

 

One thought on “Hanya Karena Sebuah Tatapan Mata…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s