Ceritaku ‘tuk Engkau Fahami

Aku coba menyalakan penghangat listrikku. Penunjuk suhu digital yang dilekatkan dikoridor rumah singgahku menunjukkan suhu 2° Celcius dan mungkin sekitar -4° Celsius diluar sana. Aku perhatikan keluar jendela buram kamarku yang sedikit mengembun. Ada sesuatu yang turun dari langit, bentuknya seperti kapas putih yang terombang-ambing diterpa angin dan jatuh beserakan dihalaman rumah singgahku yang kadang-kadang aku pakai bersama teman-teman kantor untuk bermain mini golf. Butiran-butiran yang jatuh itu membungkus semua yang ada menjadi putih yang sedikit becampur dengan warna cokelat lumpur. Aaah……hujan salju lagi, paling kuat aku hanya bertahan tiga hari untuk selanjutnya mungkin penyakit flu akan bersemayam di tubuhku dalam dua minggu. Aku memang belum terbiasa dengan cuaca disini. Negara Indonesia tercintaku selalu bermandikan cahaya matahari setahun penuh dan pastikau membuat udara terasa panas mendekap siapa saja.

Aku tarik kancing jaketku hingga hampir menyentuh dagu. Aku tidak mau rasa dingin menusuk-nusuk kulitku dan menembus tulangku yang hampir kering dan akhirnya akan mengganggu semangat kerjaku hari ini. Dengan sedikit rasa malas, Aku beranjak ke meja kerjaku yang hanya tiga langkah dari tempat tidurku. Ya, ruang kerjaku adalah kamar tidurku dan kamar tidurku adalah ruang kerjaku. Aku hampir menghabiskan waktu tigaperempat hari di ruangan ini dan mungkin tidak lama lagi rasa bosan dan hampa akan membunuhku perlahan. Aku pandangin laptopku, saat screen saver-nya berjalan. Aku pandangin sebuah foto indah hasil tangkapan refleksi cermin pentagram kamera SLR-ku. Aaah…betapa hebatkau foto itu sehingga seluruh anggota tubuhku menyetujuiku untuk mengagumi orang didalam foto itu.

Aku tidak bisa melepaskan pandanganku kefoto itu. Hati dan pikiran seakan seiya sekata untuk merayuku agar aku selalu memeberi ruang sedikit di otakku untuk memikirkan dan mengingingatmu. Ada rasa kagum dan sedikit kasihan jika aku terus mengingat saat kornea bola matamu membesar menantang tajam dan selanjutnya menerkam hitam pasi bola mataku. SenyumKu juga seakan tak pernah henti apabila kamu hadir tiba-tiba tembok dinding kamarku yang bewarna sendu. Aaaah……betapa hebatnya kamu sehingga bisa meracuni tatapan mataku hanya dengan bibir mungilmu.

kamu adalah wanita terbaik yang saat ini aku temui dan aku kenal sepanjang aku dilahirkan dari rahim Ibuku. Kekuatan dan semangatmu untuk manaklukkan garis hidup yang ditakdirkan Tuhan untukmu sangat luar biasa. Tiada kata menyerah dan terlambat dalam kamusmu. Aku tak menyangka bahwa dibalik tanganmu yang halus lembut itu bisa manaklukkan tekanan hidup yang terkadang lebih besar dari tembok china. Cerdas, visioner, egois, moody bersatu padu membentuk satu karakter unik yang mungkin membuat sebagian orang kagum dan mungkin sebagian lagi membencimu.

Tapi aku mencoba sedikit memahami dirimu, bahwa ada sedikit kerapuhan dihatimu. ada suatu penggalan kisah lama yang membuat daging merah itu hancur berantakan. Ada segenggam memori buruk masa lalu yang hadir disetiap aliran darahmu. Ingatan dimana kamu pernah terjatuh dalam hidupmu. Jatuh yang mungkin akan membuat dirimu merasa hancur, merasa tidak berguna, merasa tak berharga. Jatuh yang mungkin meruntuhkan semangat hidupmu, jatuh yang melepas kepercayaan diri yang melekat ditubuhmu, jatuh yang mungkin memupus semua harapan dan cita-citamu, jatuh yang mungkin menghapus yang namanya masa depan di otakmu. Tapi aku juga tau, bahwa kamu bisa melewati semua itu. Kamu bisa bangkit dan mengalahkannya. Walaupun pada awalnya air mata kecewa mengawali kebangkitanmu. Walaupun pada awalnya kamu berjalan merangkak dan tartatih untuk mencari pegangan agar kamu bisa berdiri. Walaupun pada awalnya kamu berjalan dengan hanya memiliki setengah hati dan setengah hatimu yang hancur pada saat kamu terjatuh. Walaupun pada awalnya kamu berjalan ditatapi oleh seribu pasang mata yang merasa kasihan dan setengah lagi dengan tatapan yang penuh cebiran. Walaupun pada awalnya hanya ada satu dua orang yang menuntunmu dan memeberikan hembusan semangat  dihati dan pikiranmu. Aku mungkin tak tahu, merasakan atau mengerti apa yang kamu rasakan saat itu. Aku mungkin tak bisa atau mungkin tak akan pernah mampu melewati apabila aku ada diposisimu saat semua itu terjadi. Tapi aku sadar bahwa itu adalah skenario tersulit yang harus kamu perankan dalam sebuah drama humanis yang disutradai oleh Tuhan dan hei…kamu bisa memerankan dan melewatinya dengan baik.

Membuatmu tersenyum adalah suatu kebahagian bagiku. Saat kamu membangunkanku ditengah buaian mimpiku yang terkadang sering tercampur dengan khalayalan dan imajinasi. Walau terkadang hanya untuk memeperhatikan satu demi satu huruf yang terangkai menjadi suatu kalimat yang membentuk suatu lukisan temaram yang sedang tergambar dihatimu. Saat kamu hanya menceritakan hari-hari yang kamu dilewati kepadaku. Saat kamu hanya memberikan suatu ‘emoticon’ gembira, tertawa, semangat, bingung, sedih, hampa, bodoh, lucu, atau bahkan lapar dilaptopku. Atau hanya menyapaku dengan kata ‘hai’ dan ‘apa kabar’.

Aku bahkan rela meletakkan hatiku dan otakku diantara kedua mataku untuk melihat dan merasakan kebahagian ataupun kesedihanmu. Untuk mendengar atau meperhatikan kata-kata demi kata terangkai menjadi satu kalimat gembira atau sedih. Dan entah kenapa ada dorongan kuat dari hatiku yang dibawa aliran darahku ke otakku untuk segera memerintahkan jari-jariku untuk menyapa dan menanyakan kabarmu setiap hari. Aku hanya ingin memastikan bahwa setiap hari kamu merasa bahagia. Aku hanya ingin memastikan bahwa senyummu selalu ada untuk menyambut matahari pagi. Aku hanya memastikan bahwa ada semangat yang mendampingi langkahmu. Aku hanya memastikan bahwa hatimu cerah secerah senyummu, dan tak ada awan mendung yang mengelilingimu. Aku hanya memastikan bahwa kamu bahagia, itu saja. Kabar baik untukmu adalah kabar baik untukku juga, kabar buruk untukmu adalah seribu kali kabar buruk untukku. Aku tak mau melihat ada coretan pensil yang membentuk sketsa wajahmu dengan lengkungan kebawah dibibirmu. Aku tak mau matamu yang bulat jernih itu menatap khayalan kosong keatas langit. Aku tau mau mendengar bunyian dari pita suaramu yang membentuk kata sedih dan aku tak mau merasakan tangan halusmu menutup wajahmu untuk menahan air matakau. Aku juga tak mau melihat airmata melintasi pipi merahmu. Dan aku pasti akan melakukan apa saja agar kamu bisa selalu tersenyum, bukan untukku tapi untuk dunia.

Aku akan selalu bertanya-tanya apabila pop-up namamu tidak muncul seharian di laptopku. Pertanyaan kemana kamu, apakah kamu baik-baik saja, apakah rasa sedih yang durjana itu kembali menghampirimu, ataukah ada orang-orang yang ingin sengaja menyakitimu, apakah ini atau apakah itu, kalimat-kalimat itu selalu saja berkeliaran dipikiranku. Aku tahu aku bukan siapa-siapamu, aku juga tahu bahwa mungkin tiada satu hurufpun namaku tertulis dihati dan pikiranmu. Aku bahkan tak pernah perduli bahwa mungkin kamu menganggapku hanya sebagai angin lalu. Tapi aku mohon izinkanlah aku untuk mengetahui keadaanmu setiap hari.

Aku belum bisa mengartikan rasa ‘peduli’ku terhadapmu. Aku belum bisa mengartikan kenapa aku selalu ingin tahu tentang hidupmu. Aku belum bisa memahami kenapa aku ingin merasakan apa yang kamu rasakan. Aku juga tak tahu kenapa wajahmu selalu tergambar diotakku dan meracuni setiap pikiranku. Walaupun kini kamu begitu kuat mencengkram hatiku, tapi aku tetap belum bisa memahaminya. Aku mengingat sebuat kalimat dipostinganku terdahulu yang merupakan sebuah kutipan dari seorang cendekiawan muslim yang petikan kalimatnya kurang lebih seperti ini ‘apabila kau telah mengenal satu sama lain, apabila kau sudah nyaman untuk berbicara tentang apa saja dengan pasanganmu, apabila kau merasakan apa yang dirasakan oleh pasanganmu, dan yang terakhir apabila kau sudah rela berkorban apapun demi pasanganmu, maka percayalah sudah ada cinta dihatimu’. Well, Bisa benar bisa juga tidak yang jelas aku butuh waktu untuk mengartikan dan memahami semua ini. Seandainya pun pada akhirnya aku bisa memahami perasaanku terhadapmu. Aku juga sadar bahwa kamu begitu jauh untuk kesentuh. Atau bahkan jangankan untuk menyentuhmu, untuk mendekatimu saja mungkin hal yang tersulit dalam hidupku. otakku terlalu bodoh untuk meracuni kecerdasanmu. Hatiku terlalu lemah untuk mempengaruhiku. Mataku terlalu tersakiti untuk menatap pesona kecantikanmu. Bahkan jantung ku tak sanggup berdetak bila aku harus mengingatmu. Tapi percayalah, suatu saat aku pasti aku menyentuhmu.

Yang aku fahami sekarang, sosokmu adalah sesuatu yang hanya bisa aku mimpi-mimpikan hadir didekatku. Agar aku bisa memberikan bahuku apabila kau ingin menangis, memberikan telingaku untuk mendengar keluh kesahmu, memberikan mataku untuk memperhatikanmu, memeberikan tanganku untuk memelukmu, memberikan curahan pikiran dan hatiku untukmu,  memberikan apapun yang aku memiliki agar kau bisa bahagia dan nyaman didekatku. semoga mimpi-mimpi suatu hari bisa menghampirku dan berkata padaku ‘ini bukanlah mimpi, ini adalah suatu kenyataan dihidupmu bahwa kau telah mendapatkan apa yang kau mimpi-mimpikan’. Hingga suatu saat aku mengatakan kepadamu ‘Doesn’t matter what your friends telling you, doesn’t matter my family saying too, doesn’t matter if they won’t accept you, doesn’t really matter what they eyes seeing, ’cause I’m in love with the inner being’.

Sekarang, matahari kelabu mulai beranjak turun keperaduannya. Kicau burung jalak dibelakang kamarku semakin kuat terdengar di telingaku. Burung-burung itu seakan tidak rela matahari pergi begitu cepat ditengah kegembiraan mereka bermain dengan dinginnya hembusan angin. Langit kelabu baru saja meneriaki salju-salju agar segera berhenti menapaki bumi. Mungkin langit tau bahwa ada hari esok yang harus dilalui kembali dan sang salju harus berpartisipasi dalam mengisi hari-hari selanjutnya. Mataku terus berjalan jauh dan hampir menyentuh ujung langit. Hari-hariku yang kulewati disini memang terasa begitu berat bagiku. Jauh dari tanah kelahiran, jauh dari keluarga, jauh dari teman-temanku, jauh dari orang-orang yang kusayangi membuat satu detik disini terasa begitu lama. Bukan hal yang mudah bagiku untuk bisa secapatkau menghapus dan kemudian memformat otakku yang kemudian mengisinya dengan sesuatu yang membosankan disini. Terkadang bagian terbodoh dari otakku selalu menghasutku untuk segara mengangkat tanganku dan mengatakan menyerah. Tapi kemudian aku sadar, saat bagian otakku yang lain menggambarkan wajah cantikmu yang dikertas khayal kepalaku dan kemudian ia memerintahkanku untuk selalu mengingatmu. Walaupun belum begitu kuat, tapi paling tidak, kamu ada di bagian terdalam hatiku dan sedikit banyak pasti mempengaruhi. Dan juga karena aku sadar bahwa kamu adalah malaikat anggun yang selalu akan menjaga hatiku

 

One thought on “Ceritaku ‘tuk Engkau Fahami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s