Kau

water_drop_flower_124Bunga flamboyan di depan ku baru saja menjemput indra penciumanku. Wanginya yang lebih terasa setelah air hujan memandikan ia setelah daun-daunnya berfotosistesis saat siang hari. Warnanya yang kini lebih terlihat lebih menyala setelah air itu mebersihkan ia dari debu-debu yang selalu berterbangan apabila angin dari pantai sebelah barat kota ini menghembusnya.

Tengah malam baru saja berlalu, jam di dinding merchandise dari kantorku yang lama menunjukkan jam dua pagi. Suara detak jarumnya terkadang membikinku jengkel, karena ia selalu berteriak saatku ingin memejamkan mataku dan juga bunyi gelembung-gelembung lahar di gunung berapi seperti terdengar dari perutku yang membuatku tersadar bahwa belum sedikitpun nasi menyentuh lidahku hari ini.

Entah kenapa, saat ini otak ku kini teracuni kembali oleh ingatan-ingatan yang sebenarnya tak ingin aku ingat. Rasaku merengek-rengek kepada pikirku untuk mengingat kau kembali. Seperti anak kecil yang mengancam akan memeras kelenjar air matanya apabila sang ibu tidak mau membelikan sebuah es krim merah jambu yang di jual tukang es krim yang sengaja berhenti di depan rumahnya. Aliran darahku melupakan tugasnya untuk membawa oksigen dan menggantikannya dengan namamu dan nafasku juga terdengar terengah-engah saat paru-paruku memompa dua liter rindu yang tanpa sadar di bawa oleh memori telingaku saat mendengar suaramu.

Jari-jari tanganku hampir saja tak mampu menekan tuts keyboard laptopku karena kau begitu kuat mengikatku didalam sangkar besi dengan rantai-rantai baja menggenggam setiap persendianku. Dan aku juga hampir tak bisa melihat apa yang aku tulis di monitor laptopku ini padahal aku sudah mengenakan kaca mata minusku, itu karena kau menutupiku dengan bayangan indah tubuhmu. Sungguh, walau tak ingin aku percaya kau terlalu banyak mempengaruhi langkah yang aku buat untuk hidupku. Aku tak pernah sadar bahwa setiap keputusan yang aku ambil oleh sinergi hati dan otakku adalah karena perintahmu.

Sebelas tahun bukanlah suatu yang singkat untuk mengenalmu. Lebih dari satu dekade ini kita saling mengenal. Sudah tidak adalagi warna yang tak kita kenal antara diri kita masing-masing. Mengenalmu seperti aku mengenal bagian tengah punggungku, dekat bahkan sangat dekat, tetapi sangat susah untuk dilihat apa lagi disentuh. Dan selama sebelas tahun itu pula kau memenjarakan seluruh hidupku didalam jeruji-jeruji pesonamu. Aku tak pernah tau, apakah aku terlalu lemah untuk di pengaruhi oleh mu atau kau yang terlalu kuat untuk membodoh-bodohiku. Yang jelas sampai sekarang aku takkan pernah bisa lepas dari suara, senyum dan bau tubuhmu.

Dan kau harus percaya bahwa selama itu pula aku tak pernah bisa jatuh cinta kepada wanita lain. Walaupun aku telah berusaha sekuat tenaga dan pikiran ku untuk bisa mencintai wanita lain. Seperti seorang usaha anak-anak desa yang miskin yang ingin mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter atau seorang engineer. Itu mungkin terjadi. Tetapi dibutuhkan kekuatan dan kemauan yang luar biasa untuk mewujudkan itu semua dan pastinya memakan waktu yang amat sangat panjang. Tetapi saat ini aku tidak sanggup. Aku bahkan tak pernah menganggap bahwa ada wanita lain selain dirimu yang diciptakan Tuhan ke dunia ini. Karena mata dan hatiku telah ditutup olehmu.

Dan selama itu pula aku memendam perasaan itu. Seperti mafia yang menimbun BBM illegal di belakang rumahnya untuk di jual ke pasar luar negeri, tetapi belum sempat ia melakukan niatnya BBM itu keburu meledak karena kelalainnya. Rasaku juga seperti itu, selama ini angkuh dan takut selalu begantian menjaga hatiku untuk tidak melakukan ungkapan itu. Angkuh karena kau pikir kau bukan siapa-siapa dan apa-apaku. Angkuh, karena aku pikir kau akan besar kepala saat kau tau ada seseorang yang memujamu seperti rakyat mesir yang memuja pharaoh ribuan tahun sebelum masehi. Takut, aku takut apabila aku mengungkapkan itu kau menjauh dari ku. Menjauh dari kehidupan ilusi maupun nyataku. Walaupun aku sadar sesadar-sadarnya bahwa suatu saat, cepat atau lambat perasaan itu aku meledakkan kepalaku dan mungkin membunuhku.

Tapi sekarang aku merasa capek. Melakukan drama kepura-puraan selama lebih dari satu dekade itu sangat menyiksaku. Aku tidak pernah menikmati skenario roman yang di berikan sutradara alam semesta ini untuk memainkannya di opera sabun panggung teater khayalan. Aku gak pernah menikmati peran utama sang pecinta yang hanya berperan sebagai orang bisu yang bergeming disudut panggung teater disaat aktor wanita memainkan peran hidupnya yang membuat semua penonton takjub menyaksikan aksinya. Dan sebagian lagi memujanya. Walaupun hatiku kecilku tetap merasa bahagia menyaksikan pemeran wanitanya bahagia.

Kita pasti akan tua, tapi setiap kita belum tentu dewasa. Tanpa sengaja aku baca kutipan itu disebuah artikel koran online di internet. Aku sadar bawah rasa angkuh dan takut itu ada karena belum ada kedewasaan itu belum ada. Awalnya aku ingin menunggu kedewasaan itu menjemputku, tapi aku salah. Seharusnya akulah yang menjemput kedewasaan itu. walaupun sebenarnya aku gak yakin apakah aku telah berhasil menjemput kedewasaan itu, tapi yang jelas aku sudah bisa menyampakkan rasa angkuh dan takutku untuk mengatakan ini semua.

“Aku cinta Kamu”, itu kalimat yang aku pendam selama sebelas tahun hidupku saat aku pertama kali mengenalmu. Butuh kekuatan besar untuk mengatakannya, seperti kekuatan Samson saat meruntuhkan kerjaan orang tuanya Daleylah. Sebuah kekuatan yang bukan hanya berasal dari fisik tetapi juga berasal dari kekuatan hati dan pikiran. Sungguh, saat aku menulis ini untukmu aku seperti mendorong sebuah truk besar dengan muatan pasir penuh, yang terlihat hanya seperti orang bodoh dan juga menjadi bahan tertawaan orang-orang yang melihatnya. Tapi, aku harus mencoba dengan cara dan jalan apapun agar truk itu bergerak.

Aku gak meminta jawabanmu, karena aku memang aku gak pernah bertanya tentang perasaanmu padaku.”aku cinta kau tapi tak kan ku paksakan” aku pikir kau tau ini lirik lagu siapa. Itu karena aku bukan seorang dosen yang memaksa meminta jawabannya kepada mahasiswa dikelasnya, yang apabila mahasiswanya akan diskors apabila tidak bisa menjawab pertanyaannya. Aku Cuma mengharap kedewasaanmu untuk menerima bahwa disini, hari ini ada seseorang yang telah meletakkan hatinya di hatimu jauh sebelum aku dan kau menyadarinya. Ada seorang yang seluruh otaknya diciptakan Tuhan hanya untuk memikirkan kamu. Ada seseorang yang setiap hembusan nafasnya ada namamu. Ada orang yang memertahankan detak jantungnya agar ia tetap hidup untuk selalu dapat memandang dan berharap padamu Dan ada seseorang disetiap sujudnya selalu mendoakan kau agar selalu bahagia.

Aku hanya ingin kau tahu……………………………………..

2 thoughts on “Kau

  1. ooh.. so sweeett ^.^

    udahlah bang, yang penting kan udah diungkapkan..
    *perasaan kok sama yah kayak ceritaku dulu. toweng!

    tapi InsyaAllah yang diberikan Allah itu adalah yang terbaik kok😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s