Kenapa Aku Harus Disini?

mesjid raya baiturahman
mesjid raya baiturahman

Hujan itu kini telah reda. Hanya tinggal titik yang jatuh dari dahan pohon akasia didepan rumahku. Bau tanah yang terhempas air masih terasa menusuk hidung siapapun yang berada didekat rumah ku. Sudah satu minggu ini hujan selalu menyirami tanah nanggroeku. Awan kelabu dan terkadang lebih pekat dari air payau yang mengalir di alue naga selalu melukis langit setiap sore hari. Angin yang berhembus sekencang tukang becak penayong yang mengejar setoran perhari membawa seribu jarum yang siap menusuk tulang pejalan kaki yang lupa memakai baju penghagat.

Mataku masih memandang keluar dari sebuah jendela kaca yang sedikit buram karena aku sering lupa bahwa aku punya enam jendela kaca dirumahku yang harus aku bersihkan setiap bulannya. Mataku juga masih menangkap sisa-sisa butiran hujan yang masih jatuh dari atap seng rumah kontrakanku dan otakku masih meraba memori-memori yang aku simpan dibelakangnya.

Tidak ada satu hal yang istimewa yang membawaku kini terpaku bergeming di nanggroe ini. Hanya sebuah kiriman tugas dari kantor lamaku yang hanya membikin ototku mengejang dan membikin otakku seperti dihempas palu godam saat ku mendengar bahwa aku harus di mutasi ke kota ini. Darah ku seolah berhenti mengalir dan bahkan aku tak mampu bediri tegak saat Atasanku mengirimkan gelombang suara yang dihantar oleh udara hasil olahan AC gedung kantorku yang jarang di bersihkan oleh teknisinya sampai ke gendang telingaku. Yang selanjutnya mengirimkan suara itu ke otakku dan tanpa ba-bi-bu otakku langsung memerintahkan kelenjar air mataku untuk menumpahkannya di pipiku. Ups…untung aku bisa menangkalnya sebelum itu menjadi bahan ledekan teman- teman sekantor.

“aku belum sanggup”, hatiku berteriak kencang. Ya, saat itu aku belum sanggup kalau harus meninggal kota Medan tercinta.. Sudah hampir sepuluh tahun aku mendekam dalam petak tanah seluas 265,10 km2 persegi itu. Yang memenjarakan semangat dan pikiran ku dalam lingkaran candu yang tidak bisa dihilangkan dari otakku. Terlalu banyak kenangan yang harus telah aku buat, seandainya aku harus meninggalkan kota itu. Aku belum siap untuk tidak bernafas dan meminum air dari atmosfir kota yang telah mendidikku jadi manusia urban. Meninggalkan tiap tetes keringat yang telah aku tumpahkan di jalan-jalan protocol maupun arterinya. Yang jelas aku belum sanggup, tapi mau tidak mau, suka tidak suka aku harus meninggalkannya demi sebuah alasan klasik seorang anak manusia yang ingin berubah yaitu KARIR.

Udara panas yang menyengat kulitku dan debu yang terhisap dari lubang hidungku hampir saja membuatku dadaku sesak. Tidak ada disudut kota ini yang jalannya tanpa dipenuhi debu yang berterbangan mengikuti arah angin timur yang berhembus dari bukit sebelah timur kota ini. Mataharinya yang seolah hanya beberapa inchi dari kepalaku membuat kulitku cepat berubah warna seperti warna aspal yang baru saja di ratakan dengan mobil mesin penggiling didepan kantorku. Di tambah lagi lalu lalang mobil dari antah berantah yang aku tak pernah tau dari mana nomor polisi mobil-mobil itu berasal. Bahkan ada mobil yang letak setirnya sama dengan mobil-mobil yang ada di film Hollywod membuatku semakin bingung dan canggung berdiri disini. Sisa bencana itu masih tergambar jelas dengan garis-garis tegas tangan sang Pencipta akan kekuatannya. Jalan, bangunan, dan tanah masih mencoret-coret kehancuran di tanah yang pernah jaya pada abad ke-17 di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Ya sudah satu minggu sejak aku di mutasi dari kota medan ke kota ini. Tiada satupun yang bisa aku lakukan selain menjalankan tugas-tugasku dengan memaksakan hatiku untung riang. Aku belum sempat menejemput semangatku yang masih tertinggal di kota Medan. Dan masalahnya entah dimana dia sekarang berada. But, life must be go on, kutipan yang pernah aku dengar dari sinetron emak-emak yang tidak sengaja aku tonton saat aku mengantri di loket bus antar kota saatku masih kuliah dulu. Aku harus bisa bertahan hidup disini. Seperti batang ubi yang bisa hidup di tanah manapun ia dicampakkan. Walaupun pada awalnya ia butuh waktu untuk menumbuhkan daun pertama di ruas-ruas batangnya. dan aku pikirpun itu hanya masalah waktu sampai suatu saat aku bisa jatuh cinta sama kota ini.

Tiada hiburan yang berarti dikota ini, selain warung kopi dan eksotisnya pantai-pantai disini. Tidak tahu kenapa, pada awalnya aku gak bisa menikmati duduk di warung kopi berjam-jam tanpa ada sesuatupun yang dilakukan kecuali hanya mengeluarkan energi untuk menggetarkan pita suara untuk mengumpulkan kata demi kata sambil menyeruput segelas kopi ulee kareeng yang terkenal itu. Bising, penuh asap rokok dan jorok merupakan gambaran hampir seluruh warung kopi di kota ini. Aku belum terbiasa dengan hal-hal ini. Karena aku biasanya menghabiskan waktu dan tentunya uangku di kafe live music, meja bilyard, bioskop 21 atau hanya sekedar nongkrong di salah satu rumah temanku untuk bermain playstation. Satu-satunya yang bisa menghibur diriku hanya pantai. Aku sangat suka pantai, lhokngan, lampouk, ulee lheu, Ujung batee dan ratusan pantai yang tak bernama lainnya. Keindahan pantai-pantai di kota ini membuatku betah berjam-jam memandang kaki langit yang bargaris lurus seperti mistar kayu ibu guruku saat aku es-de. Suara ombak menghujam pasir di pantai dan warna biru-hijaunya seperti orkestranya Mozart ato bethoven yang entah entah kenapa bisa menentramkan hatiku. Walaupun aku sadar sesadarnya bahwa pantai dan laut itu sudah membunuh ratusan ribu jiwa dengan kemarahannya. Tapi aku tidak bisa untuk tidak mencintainya. Dan yang paling susah dan paling mengeluarkan tenaga dan biaya adalah, aku harus bulak-balik menempuh perjalanan ke kota Medan setiap bulannya hanya demi untuk merasakan atmosfir kota itu.

Seperti pepatah lama, benci dan cinta itu hanya berbeda seutas rambut yang rontok gara-gara salah memakai sampho atau minyak rambut. Hal-hal yang awalnya aku benci, kini aku cintai setengah mati. Matahari, debu, jalan, warung kopi, masakannya bahkan wanitanya kini sudah pasti sangat membebani ku saat ku mencoba melangkah meninggalkan kota ini. Ya, tepat dua bulan lagi, aku genap empat tahun menghirup udara kota ini yang terkadang gak jelas apakah dari gunung atau dari laut asalnya. Sekarang aku benar-benar jatuh cinta sama kota ini. Banyak hal-hal baru yang aku temukan di kota ini, dan mungkin tak akan kutemukan di kota-kota lain di Indonesia. Aku tidak bisa menguraikan kata perkata, bait perbait hal yang membuatku jatuh cinta dengan kota ini. Yang jelas, aku tidak pernah menjemput semangat di kota Medan yang tertinggal saat ku hijrah kemari. Tapi kota inilah yang membuat semangat baru untuk hidupku. Dan seandainya diizinkan Alloh, aku ingin menghabiskan sisa hidupku disini dan dengan di dampingi oleh wanita kota ini. Walaupun sampai dengan sekarang aku belum menemukan wanita itu. (Banda Aceh, 9 Agustus 2009 – 3.02 am)

One thought on “Kenapa Aku Harus Disini?

  1. ciee..ehhmmm..
    sayang-nya lg bc ini, aku lg sendirian di rumah, jd ngga ada teman buat tertawa…hahahaha
    jadi bener ya status dua minggu yg lalu, lg ada di Kota Medan, “kangen Banda Aceh”…??
    Emang bener, qta akan merasakan jatuh cinta pada suatu kota, ketika kita lg berada di kota lain…
    uhuy..uhuy…..jatuh cinta pada suatu kota..karena jatuh cinta juga pada ‘salah satu’wanita penghuni kotanya kan?
    niy cerita tentang warung kopinya sama, dulu mana betah duduk berjam-jam…sekarang? sehari ngga kesana aza, kangennya minta ampun…
    kalo sampai merasa jatuh cinta pada kota ini belum..tp aku pernah jatuh cinta di kota ini dan love at first sight- nya di warung kopi lagi…hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s