Sosok Aku….ilusikah??

Self awareness is… most illusive. You… find yourself as between two mirrors of a barbershop, with each image viewing each other one, so that as the self takes a look at itself, it soon gets all confused as to the self that is doing the looking and the self which is being looked at.” (Hilgard, 1949).

Jika bicara mengenai self pada manusia, berarti kita bicara mengenai perubahan yang tiada habisnya. Sederhananya, kita selalu memperhatikan perubahan yang terjadi pada diri kita, dan membandingkannya dari waktu ke waktu. Apakah diri saya saat ini sama dengan diri saya dua tahun yang lalu? Dua hari yang lalu? Atau bahkan, dengan dua detik yang lalu? Bagaimana mengatakan diri kita tetaplah sama, jika ketika kita berdiam diri pun, partikel sel dalam diri kita bergerak terus menerus? Pertanyaan-pertanyaan ini selanjutnya akan membawa kita kepada sosok diri (self) yang disadari sebagai sosok Aku.

Sosok Aku sendiri, kemudian memiliki berbagai penafsiran. Salah satu yang paling menarik menurut saya adalah konsep yang ada dalam ajaran Budhisme, yaitu konsep Atta. Atta (Aku/Jiwa) menitikberatkan pada sifat manusia yang mengalir dan tidak kekal pada lima komponennya yang selalu berubah. Kelima komponen itu adalah badan jasmani, pikiran, perasaan, pencerapan, dan kesadaran. Perubahan yang selalu terjadi dari waktu ke waktu inilah yang kemudian membawa penafsiran untuk melihat Atta sebagai sebuah proses yang berkelanjutan.

Itu konsep yang ada didalam agama Budha. Lantas, bagaimana dengan konsep yang ada dalam psikologi sendiri? Wiliam James (1890) termasuk dalam jejeran pertama psikolog yang mempertanyakan, kemudian mengenalkan konsep dualitas dalam Self (aku). Untuk menjelaskannya, William menggunakan perumpamaan kalimat I see Me (Aku melihat Diriku). Bisa kita lihat dalam kalimat tersebut, terdapat dua sisi dari self yang dimunculkan, yaitu Aku (I) dan Diriku (Me). Aku sebagai sosok yang melihat Diriku, dan Diriku yang dilihat oleh aku (I am doing the seeing, and what I see is Me).

Sepintas, Aku dilihat sama sebagai sosok yang mengalami proses dasar psikologis seperti persepsi dan sensasi. Namun, pada kenyataannya, Aku adalah kesadaran kita sendiri yang secara subjektif berpikir/mengira menerima stimulus tertentu (dalam hal ini melihat diriku). Sedangkan Diriku lebih mengarah pada ide/kepercayaan mengenai siapa diri kita, dan seperti apa kita (apa yang kita lihat sebagai refleksi diri).

Kemudian jika kita menarik benang merah dari konsep yang dibawa William serta konsep Atta dalam Budhisme, terdapat kesamaan yang ada dalam dua konsep ini: Keduanya tidak melihat Aku (Self) sebagai sebuah sosok yang mengada secara fisik. Atta didefinisikan sebagai proses, dimana Aku saat ini tidak bisa disamakan dengan Aku diwaktu yang lain. Sementara I dan Me versi William dilihat sebagai kesadaran subyektif serta anggapan mengenai diri kita sendiri. Kedua konsep tersebut pun sama-sama bergerak di ranah kesadaran (consciousness) yang melibatkan aktivitas otak. Aktivitas otak inilah yang kemudian menentukan ada atau tidaknya sosok dari seorang manusia, dan memunculkan self sebagai “Sesuatu.”

Namun bagaimana jika aktivitas otak tidak berjalan dengan semestinya? Apakah sosok “Sesuatu” ini akan tetap ada? Pada situasi tertentu, otak tidak hanya mampu menafsirkan informasi yang diterima, melainkan juga secara kreatif “Mengubah” informasi tersebut dan membuat informasi sendiri. Sebut saja orang yang kakinya diamputasi, namun tetap dapat merasakan gatal pada kakinya. Ada pula contoh ekstrem, seperti yang dialami oleh orang yang menderita Charles Bonnet Syndrome. Penderita sindrom ini normal secara mental, namun mengalami gangguan otak yang menyebabkan orang tersebut mengalami halusinasi visual yang tidak dilihat oleh orang normal. Orang yang mengalami sindrom ini, bisa saja tiba-tiba melihat orang yang ada di depannya memiliki kepala kelinci, seperti yang dialami oleh kartunis The New Yorker yang terkenal, James Turber. Dia membuat ilustrasi mengenai contoh halusinasinya, yang kira-kira terlihat seperti dibawah ini:

Jika kita menjadi James Thurber, dan menggunakan konsep I dan Me, maka apa yang dia alami dapat ditafsirkan menjadi: Aku (berpikir) Diriku melihat orang didepanku berkepala kelinci. Penafsiran ini secara subjektif hanya dialami oleh James, karena pada kenyataannya tidak ada orang yang berkepala kelinci. Orang lain tidak melihat kepala kelinci tersebut, dan secara otomatis penafsiran James mengenai Aku pada dirinya pun menjadi gugur.

cartoon
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sosok Aku (Self) pada dasarnya tidak ada di dunia ini. Wujudnya hanya berupa ilusi yang sifatnya subjektif pada setiap orang, atau dengan kata lain sesuai dengan apa yang kita pikirkan mengenai diri kita sendiri. Bagusnya, jika self adalah ilusi buatan sendiri, berarti manusia dapat membentuk konsep dirinya menjadi lebih baik sepanjang hidup, meskipun harus melewati proses pemikiran yang tidak sederhana. Nah, bukankah untuk perubahan itulah, maka Psikologi ada? Peace

sumber :

ruangpsikologi.com

Informasi penulis:

Desy Kartika Sari adalah mahasiswa fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Kegiatannya sehari-hari adalah menyelesaikan skripsinya, berlatih taekwondo, sembari melakukan penjelajahan terhadap dirinya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s