Kebetulan yang Bukan Kebetulan

“there is no accident”, demikian kata segmud freud. intinya, tak ada kebetulan murni di dunia ini. setiap kebetulan adalah “kebetulan yang bukan kebetulan”. filosofi ini lah yang coba di usung James Redfield lewat Celestine Prophecy. Redfield mengajak kita merasakan adanya energi Ilahi yang bekerja dan muncul lewat kebetulan-kebetulan. inilah bukti bahwa alam semesta mendengar ketulusan doa tiap manusia dan membantu lewat serangkaian kebetulan.

Jauh sebelum konsep Lau of Attraction dikemukakan Rhonda Byrne dalam ‘The Scret’, Carl Gustav Jung sudah lebih dulu mengemukakan konsep sinkronisitas. Konsep Jung inilah yang tampak kental mewarnai trilogi novel ‘Celestine Prophecy’ karya Redfield. Novel ini menjadi best seller di pergantian milenium itu telah mengispirasi banyak orang.

pada Juni 2008, Gramedia Pustaka menerbitkan ‘Celestine Vision’. di buku ini Redfield memaparkan landasan teoritis dari novel ‘Celestine Prophecy’. Dijelaskan bahwa alam semesta adalah sistem dinamis yang digerakkan oleh aliran keajaiban-keajaiban kecil yang berlangsung secra terus-menerus. Bukan itu saja. Alam semesta juga merespon kesadara kita melalui berbagai kebetulan yang dapat kita alami setiap saat.

Hidup adalah Kemungkinan Kebetulan bisa menyangkut munculnyaseseorang pada saat yang tepat dengan membawa informasi atau sesuatu yang memang kita cari. bisa juga kesadaran mendadak bahwa hobi atu ketertarikan yang kita miliki di masa lalu, ternyata merupakan persiapan untuk menangkap kesempatau atau peluang kerja di depan mata.

Psikolog Swiss, Carl Jun, adalah pemikir modern pertama yang menjelaskan fenomena misterius ini. Ia menyebut dengan istilah sinkronisitas. Jung berpendapat sinkronisitas adalah prinsip sebab akibat dalam alam semesta, hukum yang menggerakkan umat manusia menuju pertumbuhan kesadaran yang lebih besar.

dalam ‘Celestine Vision’, Redfield mengemukakan bahwa kunci paling penting dalam upaya memanfaatkan berbagai sinkronisitas dalam kehidupan kita adalah tetep waspada serta meluangkan waktu untuk mengkaji apa yung sedang berlangsung. Kita mesti mulai melihat bahwa berbagai kebetulan dalam hidup kita adalah misteri yang membawa kita berhadapan langsung dengan pertanyaan-pertanyaan spritual yang lebih dalam tentang kehidupan.

Disini kita bise mesimetrikan pendapat Redfiled dengan Martin Hedegger, yang mengungkapkan permikiran bahwa barangsiapa mencari kedalaman, mulailah dengan yang dangkal-dangkal dan melihat kedangkalan dengan tatapan yang cermat dan dalam,  maka kedalaman itu akan muncul dari hal-jal yang bersifat permukaan.

Heiedegger melihat bahwa manusia adalah enttas yang bergerak dalam pemahaman tentang Ada-nya di dunia. Maka dalah keseharianpun, manusia dapat memetik pemahaman tentang ‘Ada’ melalui kewaspadaan dan lemuangkan waktu untuk mengkaji apa yang sedang berlangsung. Dalam ‘Being and Time’, Heidegger mengatakan ini sebagai mistik keseharian yaitu bersikap mistis dalam keserharian; yang berarti menghayati keserharian secara mendalam sampai ke dasar-dasar Ada kita sendiri. dengan cara terus menerus menanyakan Ada.

sinkronisitas dan energi Ilahi sinkronisitas bisa dirasakan ketiak manusia bersikap mistis dalam keseharian seperti dimaksudkan Heidegger. Sinkronisitas adalah kesadaran tentang bagaimana hal-hal Ilahi terjadi dalam kehidupan kita. dalam sinkronisitas, terjadi penyatuan antara transendensi dan imanensi. Tuhan tidak mengawang-awang di atas sana, melainkan hadir dari kebetulan-kebetulan di keseharian kita. kebetulan yang sejatinya merupakan jawaban atas doa kita.

Berarti disini manusia harus terlebih dahulu membuat keputusan mengenai arah hidup dan selanjutnya peka terhadap kebetulan-kebetulan yang menuntun pada arah yang dituju. Dengan menyadari sinkronisitas, diharapkan kita tak lagi melempar tanggung jawab hidup kita ke atas langit, namun berani dan memutuskan apa yang mau kita tuju.

Disinilah kita di ajarkan bertanggung jawab atas konsekuensi keputusan hidup. melalui cara pandang Celestine, manusia di ajak melihat bahwa alam semesta bukan bekerja atas dasar “Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan”, melainkan “Manusia Menentukan, Tuhan mengusahakan”

Jika penentuan dianggap ada di tangan TUhan, maka tak ada tanggun jawab manusia atas hasil ketupusannya sendiri. padahal, justru manusia mesti menentukan terlebih dahulu apa yang diinginkan. jika keinginan itu selaras dengan keseimbangan semesta, maka energi Ilahi itu akan mebantu (mengusahakan) tercapainya keingan lewat kebetulan-kebetulan yang sejatinya bukan kebetulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s